Home » » Uang kertas indonesia dari masa ke masa

Uang kertas indonesia dari masa ke masa

Written By Sabda Alam on Selasa, 08 Mei 2012 | 06.11

Uang kertas indonesia dari masa ke masa - Setelah indonesia lepas dari penjajahan atau masa kemerdekaan indonesia pernah mengeluarkan Uang Kertas, yang dalam perjalanannya mengandung sejarah yang tidak terpisahkan dari kehidupan dari masa ke masa mulai Republik Indonesia berdiri sampai sekarang. Untuk jelasnya simak postingan kali ini yang mengupas tentang mata uang kertas yang pernah berlaku di indonesia.

Uang Kertas Indonesia
Tahun 1946 – 2011



ori-1-1-sen

Mata uang pertama yang dimiliki Republik Indonesia setelah merdeka adalah Oeang Republik Indonesia atau ORI. Pemerintah memandang perlu untuk mengeluarkan uang sendiri yang tidak hanya berfungsi sebagai alat pembayaran yang sah tapi juga sebagai lambang utama negara merdeka.

Resmi beredar pada 30 Oktober 1946, ORI tampil dalam bentuk uang kertas bernominal satu sen dengan gambar muka keris terhunus dan gambar belakang teks undang undang ORI ditandatangani Menteri Keuangan saat itu A.A. Maramis. Pada hari itu juga dinyatakan bahwa uang Jepang dan uang Javache Bank tidak berlaku lagi. ORI pertama dicetak oleh Percetakan  Canisius dengan desain sederhana dengan dua warna dan memakai pengaman serat halus.

Presiden Soekarno menjadi tokoh yang paling sering tampil dalam desain uang kertas ORI dan uang kertas Seri ORI II yang terbit di Jogjakarata  pada 1 Januari 1947, Seri ORI III di Jogjakarta pada 26 Juli 1947, Seri ORI Baru di Jogjakarta pada 17 Agustus 1949, dan Seri 17 Agustus 1949, dan Seri Republik Indonesia Serikat (RIS) di Jakarta pada 1 Januari 1950.

Meski masa peredaran ORI cukup singkat, namun ORI telah diterima di seluruh wilayah Republik Indonesia dan ikut menggelorakan semangat perlawanan terhadap penjajah. Pada Mei 1946, saat suasana di Jakarta genting, maka Pemerintah RI memutuskan untuk melanjutkan pencetakan ORI di daerah pedalaman, seperti di Jogjakarta, Surakarta dan Malang. (Sumber: Wikipedia).

Uang kertas ORI (Oeang Republik Indonesia)


ori-1a-5-sen1
-
ori-2a-10-sen1

ori-2b-10-sen
-

ori-3a-25-sen

ori-3b-25-sen


ori-4-setengah-rp1
ori-5a-setengah-rpori-5b-setengah-rp

ori-6-1-rp

ori-7a-5-rpori-7b-5-rp
ori-8-10-rp

ori-9a-25-rp1ori-9b-25-rp

ori-10-40

ori-12-75-rp

ori-13a-100-rpori-13b-100-rp

ori-14-100-rp 
Uang ORI Rp.100 dengan tandatangan Maramis


ori-100-hatta1  
Uang ORI Rp.100 dengan tandatangan Hatta

oria-250orib-250-

ori-15-400-rp1

ori-16-600-rp1

Uang ORI Rp.600 dengan tandatangan Hatta

Uang kertas RIS (Republik Indonesia Serikat)

1a-rp-5-ris-1950
1brp5-ris-1950

2arp10-ris-1950
2brp10-ris-1950

Republik Indonesia Serikat, disingkat RIS, adalah suatu  negara federasi yang  yang berdiri pada tanggal 27 Desember 1949 sebagai hasil kesepakatan 3 pihak dalam Konferensi Meja Bundar yaitu Republik Indonesia, Bijeenkomst voor Federaal Overleg (BFO), dan Belanda. Kesepakatan ini disaksikan juga oleh United Nations Commission for Indonesia (UNCI) (UNCI) sebagai perwakilan PBB.

Pemerintahan RIS (kabinet ministerial) dipimpin oleh Perdana Menteri Mohammad Hatta, sedangkan Presidennya adalah Soekarno.  Republik Indonesia Serikat yang beribu kota di Jakarta, terdiri beberapa negara bagian, yaitu:

Republik Indonesia.
Negara Indonesia Timur.
Negara Pasundan..
Negara Jawa Timur.
Negara Madura.
Negara Sumatra Timur.
Negara Sumatra Selatan.

Di samping itu, ada juga negara-negara yang berdiri sendiri dan tak tergabung dalam federasi, yaitu:

Jawa Tengah.
Kalimantan Barat.
Dayak Besar.
Daerah Banjar.
Kalimantan Tenggara.
Kalimantan Timur (tidak temasuk bekas wilayah Kesultanan Pasir).
Bangka.
Belitung.
Riau.

Republik Indonesia Serikatdibubarkan pada 17 Agustus 1950, dan kembali menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia, dengan kendali sepenuhnya dari presiden Soekarno (kabinet presidential) beserta wakil presiden Mohammad Hatta.  (Sumber: Wikipedia).

UANG KERTAS REPUBLIK INDONESIA

1951

1a-1951-rp-11b-1951-rp-1



2-1951-rp-2-setengah


UANG KERTAS BANK INDONESIA

Sekilas Sejarah Berdirinya Bank Indonesia (BI)

Sebelum kelahiran Bank Indonesia, kebijakan moneter secara terbatas telah dilaksanakan oleh bank sirkulasi pada saat itu, yaitu De Javasche Bank.

Agar pengelolaan bank sentral dapat dilakukan menurut kebijakan pemerintah di bidang moneter dan perekonomian, maka pada tahun 1951 De Javasche Bank dinasionalisasikan. Setelah itu didirikan Bank Indonesia milik negara, dengan badan hukum berdasarkan Undang-Undang (UU) No. 11 tahun 1953 tentang Penetapan Undang-Undang Pokok Bank Indonesia.

Dalam Undang-Undang (UU) No. 11 tahun 1953 tentang Penetapan Undang-Undang Pokok Bank Indonesia, dijelaskan bahwa Bank Indonesia (BI) didirikan untuk menggantikan De Javasche Bank N.V. sekaligus bertindak sebagai bank sentral Indonesia. Sebagai badan hukum milik negara, BI berhak melakukan tugas-tugas berdasarkan Undang-Undang Bank Sentral. Berkedudukan di Jakarta, BI mengemban tugas, antara lain: menjaga stabilitas rupiah, menyelenggarakan peredaran uang di Indonesia, memajukan perkembangan urusan kredit, dan melakukan pengawasan pada urusan kredit tersebut.

Pada saat undang-undang tersebut dirumuskan, Presiden De Javasche Bank, Mr. Sjafruddin Prawiranegara, dalam laporan tahunan De Javasche Bank tahun 1951/1952, mengungkapkan kekhawatirannya bahwa hak bank sirkulasi untuk mencetak dan mengedarkan uang, dapat dimanfaatkan oleh pemerintah sebagai sumber keuangan. Untuk mengantisipasi hal tersebut, maka perlu dibentuk Dewan Koordinasi sebagai jembatan antara kepentingan pemerintah sebagai pemilik dengan pihak bank sentral yang memerlukan independensi dalam hal penetapan dan/atau pelaksanaan kebijakan moneter.

Dengan modal bank sebesar Rp 25 juta, BI memiliki usahausaha bank antara lain: memindahkan uang (melalui surat atau pemberitahuan dengan telegram, wesel tunjuk, dan lain-lain), menerima dan membayarkan kembali uang dalam rekening koran, mendiskonto surat wesel, surat order, dan surat-surat utang, serta beberapa usaha lainnya.

Berkaitan dengan hubungan BI dan pemerintah, telah ditetapkan dalam UU tersebut, bahwa BI wajib menyelenggarakan kas umum negara dan bertindak sebagai pemegang kas pemerintah Republik Indonesia (RI). BI juga memberi uang muka dalam rekening koran kepada pemerintah RI.

Pada awal berdirinya, struktur organisasi BI meliputi 12 bagian di kantor pusat Jakarta, 15 kantor cabang di dalam negeri, dan 2 (dua) kantor perwakilan di luar negeri. Bagian-bagian yang terdapat di kantor pusat adalah: bagian pembukuan, bagian kas dan uang kertas bank, bagian urusan efek, bagian pemberian kredit Jakarta, bagian sekretaris dan urusan pegawai, bagian urusan wesel, bagian pemberian kredit pusat, dana devisa, bagian statistik ekonomi, urusan umum, bagian luar negeri, dan bagian administrasi pusat.

15 kantor cabang yang terdapat di dalam negeri adalah Manado, Pontianak, Kediri, Yogyakarta, Palembang, Medan, Makassar, Banjarmasin, Malang, Solo, Semarang, Surabaya, Bandung, Padang, dan Cirebon. Sedangkan 2 kantor di luar negeri adalah bank cabang Amsterdam dan New York.

Direksi bank pada periode ini terdiri atas seorang gubernur (pimpinan), seorang gubernur pengganti I, seorang gubernur pengganti II, dan beberapa orang direktur. Gubernur yang menjabat pada periode 1953-1959 adalah Sjafruddin Prawiranegara dan Loekman Hakim.


SP 
Gubernur pertama BI,  Sjafruddin Prawiranegara

Susunan personalia di kantor pusat antara lain Ong Sian Tjong yang menjabat sebagai Kepala Bagian Pembukuan, R.H. Djajakoesoema sebagai Kepala Bagian Pembantu Sekretarie, dan Go Wie Kie sebagai Kepala Bagian Pembantu Wesel. Di kantor cabang antara lain adalah Tan Liang Oen, Agoes Gelar Datoek Radjo Nan Gadang, M. Rifai, D.D Ranti, dan beberapa orang lainnya.

Selama periode 1953-1959, dilakukan peresmian dan penutupan beberapa kantor cabang dan kantor perwakilan. Pembukaan kantor cabang dilakukan di Ambon (17 Maret 1956), Ampenan (15 Agustus 1957), dan Jember (8 Februari 1958). (Sumber: Bank Indonesia)

1952

3a-1952-rp-5
3b-1952-rp-5 
Rp. 5 – 1952

4a-1952-rp-104b-1952-rp-10 
Rp.10 – 1952


5a-1952-rp-255b-1952-rp-25 
Rp.25 – 1952


6a-1952-rp-506b-1952-rp-50 
Rp.50 – 1952


7a-1952-rp-100
Rp.100 – 1952


8a-1952-5008b-1952-500 
Rp. 500 – 1952


9a-1952-rp-10009b-1952-rp-1000
Rp.1000 – 1952


1953

10-1953-rp-1 
Rp.1 – 1953

1956

11-1956-rp-1
Rp.1 – 1956


12a-1956-rp-2-setengah12b-1956-rp-2-setengah 
Rp.2,5 – 1956
1957 
 
13-1957-rp-5  
Rp.5 – 1957
14-1957-rp-50  
Rp.50 – 1957
15-1957-rp-100  
Rp.100 – 1957

16a-1957-rp-250016b-1957-rp-2500  
Rp.2.500 – 1957


1958

18-1958-rp-51
Rp.5 – 1958


19-1958-rp-251  
Rp.25 – 1958


28-1959-rp-100
 Rp.100 – 1958


22a-1958-rp-500022b-1958-rp-5000 

Rp.5000 – 1958


1959

23-1959-rp-5  
Rp.5 – 1959
25-1959-rp-10  
Rp.10 – 1959


26-1959-rp-25  
Rp.25 – 1959

27-1959-rp-50  
Rp.50 – 1959

28-1959-rp-1001  
Rp.100 – 1959

29-1959-rp-1000  
Rp.1.000 – 1959

1960

30a-1960-rp-530b-1960-rp-5
 Rp.5 – 1960

31a-1960-rp-1031b-1960-rp-10  
Rp.10 – 1960

 
Rp.25 – 1960
32-1960-rp-50
Rp.50 – 1960

33-1960-rp-100  
Rp.100 – 1960
1961

34-1961-rp-1
Rp.1 – 1961
35-1961-rp-2-setengah  
Rp.2,5 – 1961
1963
36-1963-rp-10
Rp.10 – 1963
1964

39-1964-10-sen
10 sen – 1964

40-1964-25-sen  
25 sen – 1964

42-1964-rp-1
Rp.1 – 1964

45a-1964-rp-2545b-1964-rp-25
Rp.25 – 1964

43a-1964-rp-5043b-1964-rp-50
 Rp.50 – 1964


44a-1964-rp-100

44-1964-rp-100 
Rp.100 – 1964
-
46a-1964-rp-10000 
46-1964-rp-10000
 Rp.10.000 – 1964
1968

52-1968-rp-1000 
Rp.1.000 – 1968
1977

56-1977-rp-100
 Rp.100 – 1977
1980

58-1980-rp-1000
 Rp.1.000 – 1980
1982

59-1982-rp-500
 Rp.500 – 1982
1988

63a-1988-rp-50063b-1988-rp-500
Rp.500 – 1988
1992

64-1992-rp-100
 Rp.100 – 1992
68-1992-rp-10000  
Rp.10.000 – 1992
1993

69-1993-rp-50000
Rp.50.000 – 1993
1995

70-1995-rp-20000  
Rp.20.000 – 1995
1998


71-1998-rp-10000 
Rp.10.000 – 1998

72-1998-rp-20000  
Rp.20.000 – 1998
1999

73-1999-rp-50000
Rp.50.000 – 1999
74-1999-rp-100000
Rp.100.000 – 1999
2000

75-2000-rp-1000  
Rp.1.000 – 2000
2001

76-2001-rp-5000
Rp. 5.000 – 2001

2004

77-2004-rp-20000  
Rp. 20.000 – 2004
78-2004-rp-100000  
Rp.100.000 – 2004

2005
79-2005-rp-10000  
Rp.10.000 – 2005
80-2005-rp-50000
Rp.50.000 – 2005

2009


DEPANBELKG 
Rp.2.000 – 2009
-

2010


-- 
Rp. 10.000 – 2010

2011

 

Rp. 20.0000 seri/emisi tahun 2004 desain baru.

 

 

Rp. 50.0000 seri/emisi tahun 2005 desain baru.


 

Rp. 100.0000 seri/emisi tahun 2004 desain baru.


TERBITAN KHUSUS




khusus
Share this article :

1 komentar:

  1. uang pecahan 500 rupiah yang ada gambar orang utannya itu mana om..?

    BalasHapus

Silahkan anda beri komentar, asal dengan bahasa yang sopan dan tidak Nyepam [tidak diperkenankan menyertakan link aktif dalam kotak komentar].

Terimakasih Bagi yang Mau Klik Like/Suka  

Entri Populer

 
Support : Berita Selebritis
Copyright © 2013. Wan Bloggers - All Rights Reserved
Template Created by Mas Template
Proudly powered by Blogger